Perlunya memiliki integritas

Smith Wigglesworth, integritas tinggi

Smith Wigglesworth, integritas tinggi

Banyak orang tidak menyadari, bahwa sebenarnya Allah lebih mengingini hati manusia, kasih yang tulus dari anak manusia kepada-Nya. Untuk memperoleh umat yang mengasihi-Nya dengan tulus, maka Allah memberikan kehendak bebas (free-will) kepada manusia, sebab sulit mengharapkan kasih yang tulus jika dilakukan dengan paksaan atau tekanan atau karena rasa takut atau ancaman. Seberapa baikkah perbuatan baik dapat dilakukan oleh seseorang, apabila dasarnya adalah karena takut dihukum. Adalah akan sangat berbeda nilainya apabila seseorang melakukan perbuatan baik jika didasari oleh rasa mengasihi Allah dengan tulus. Sekedar contoh, jika seorang suami atau isteri berketetapan hati untuk menghormati janjinya semasa pemberkatan pernikahan, untuk membahagiakan pasangan hidupnya dengan tulus, baik atau tidak baik keadaannya, maka di manapun tempat ia tidak akan mengkhianati pasangan hidupnya.

Noah ArkAlkitab mencatat beberapa gelintir saja anak manusia yang berketetapan hati untuk menggunakan kehendak bebasnya untuk beribadah dan membina keakraban bahkan persahabatan dengan Allah. Adalah Henokh, Nuh dan sebuah prosentase yang sangat kecil dari jumlah umat manusia di sepanjang zaman yang membuat keputusan yang cerdas untuk hidup bergaul karib dengan Allah, untuk mengasihi Allah dengan tulus.

Orang-orang yang luarbiasa ini dapat sukses menjalani hidup yang berkenan kepada Allah bukan karena dukungan kondisi lingkungan atau masyarakat sekitarnya. Hamba-hamba Allah yang hebat tidak membutuhkan kondisi lingkungan yang sempurna untuk dapat membuatnya memiliki integritas yang kuat untuk tetap mengasihi TUHAN dengan tulus.

Nuh hidup dalam sebuah zaman, ketika mayoritas umat manusia purba menjalani hidup yang rusak , penuh kekerasan dan kejahatan sehingga memilukan hati Allah (Kej 6:5,6,11,12). Tetapi Nuh tidak terbawa arus, melainkan menjalani pergaulan yang karib dengan TUHAN (Kej 6:9), dan di mata Allah, hanya Nuh dan keluarganya yang terlihat benar (Kej 7:1). Itulah Nuh, yang tetap tegak berdiri sebagai orang benar di antara lautan manusia yang rusak parah. Nuh cukup cerdik untuk tidak menyalahkan lingkungan guna membela diri, namun ia telah membuktikan tekad bulatnya untuk mengasihi TUHAN, Allahnya, sekalipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung, ia tidak menyiapkan alasan-alasan untuk menyerah.

Ayub dan sahabat-sahabatnya
Ayub dan sahabat-sahabatnya

Awalnya iblis mengira bahwa kesalehan Ayub tidak tulus, melainkan karena dukungan materi, berkat yang berlimpah dan kesehatan yang prima serta besarnya perhatian TUHAN padanya. Namun prasangka iblis itu seketika musnah, ketika Ayub diuji dengan: pertama, dipisahkan dengan kelimpahan materi, dibuat bangkrut total, dan kedua, direndam dalam sakit penyakit. Namun hasil akhir membuktikan integritas Ayub. Tokoh hebat ini tidak memerlukan kelimpahan harta untuk membuatnya mengasihi dan menghormati TUHAN dengan kesalehan yang tulus.

Sadrach, Mesakh, Abednego adalah tiga orang Yahudi yang pada zamannya telah memberikan hati mereka kepada TUHAN Allah, bahkan siap mati demi kasih mereka kepada TUHAN. Juga Daniel.
Tetapi apakah yang akan dilakukan Allah kepada setiap orang yang berketetapan untuk memberikan hatinya, kasih tulusnya kepada TUHAN?

Amsal 8:17
Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.

Ketika seseorang memberikan hatinya dengan tulus kepada Allah, maka tidak mungkin tidak, artinya, pastilah Allah juga dengan tulus akan memberikan hati-Nya kepada orang itu.

Tetapi bagaimana seseorang dapat memberikan hatinya kepada TUHAN ? Mari kita belajar dari pengalaman pahit umat Israel.

Untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir, TUHAN cukup menurunkan 10 tulah ke atas Mesir, dan dengan menenggelamkan pasukan Firaun di laut Teberau, maka dengan mudah TUHAN membawa lebih dari 2 juta tubuh orang Israel melintasi laut Merah.

Tetapi ketika orang Israel diuji dengan kelaparan dan kehausan, maka ketahuanlah bahwa ternyata mereka masih membawa Mesir di dalam hati mereka. Ternyata lebih mudah mengeluarkan tubuh orang-orang Israel dari tanah Mesir dari pada mengeluarkan Mesir dari hati orang2 Israel.

Dan hanya Kaleb dan Yosua, dua orang Israel yang lahir di Mesir, merekalah yang secara sadar sudah membuang jauh-jauh tanah Mesir dari hati mereka. Mengapa mereka bisa melakukan itu? Jawabnya sederhana saja: Karena hati mereka ditujukan ke tanah perjanjian, kepada janji Allah mereka sangat percaya. Kedua orang ini mengalami juga kehausan dan kelaparan, sama seperti orang-orang Israel lainnya, tetapi memory mereka masih menyimpan kuat-kuat perbuatan Allah, semenjak di Mesir dengan 10 tulah, apalagi ketika TUHAN membuat keajaiban di laut Teberau, maka ingatan akan Perbuatan Ajaib TUHAN membangun integritas diri kedua orang tokoh tersebut. Ternyata integritas yang kuat dihasilkan dengan secara sadar menyimpan ingatan akan segala perbuatan TUHAN , Firman TUHAN, dalam hati dan ingatan seseorang.

Nah, sekarang, di manakah Mesir kita? Di manakah Tanah Kanaan kita?

Ketika kita belum bertobat, maka kita masih “tinggal di Mesir, tanah perbudakan oleh dosa”, dan pada saat kita memilih untuk bertobat, mempercayai penebusan Yesus, disembuhkan dari sakit penyakit, lahir baru, maka kita mulai “keluar dari tanah perbudakan, menyeberangi laut merah”. Laut Merah adalah tempat penguburan pasukan Mesir yang mengancam Israel jasmaniah, maka secara rohani, seharusnya segala karakter yang duniawi, semua kecenderungan untuk berbuat dosa, sudah terkubur di saat seseorang ditenggelamkan di kolam baptisan.

Fase setelah itu adalah masa-masa pengujian, ini adalah saat-saat yang penting untuk menghapus “Mesir” dari hati kita. Jika pada saat Tuhan ijinkan kesulitan hidup, dan kita menghadapinya seperti kebanyakan Israel, maka Tuhan memerlukan lebih banyak waktu lagi untuk mendapatkan hati kita. Tetapi bila setiap permasalahan hidup: soal makan / minum kita hadapi dengan kebenaran Firman (tetap jujur, tidak korupsi, tidak mencuri), soal sakit penyakit kita hadapi dengan kebenaran Firman, maka sikap itu cukup membuktikan, bahwa “Mesir” sudah terhapus dari ingatan kita, maka kita akan memasuki fase yang baru: Tanah Kanaan rohani, suatu keintiman dengan Tuhan, dimana kita dapat mengasihi Tuhan dengan tulus, dengan hidup tepat seperti kata Firman TUHAN, dan kita akan mengalami penyertaan TUHAN yang sangat nyata, dan menerima berkat-berkat-Nya secara lengkap, Amin!

Seberapa cepat seseorang “berpindah dari Mesir menuju Tanah Perjanjian” akan ditentukan juga oleh keputusan yang diambil oleh orang tersebut. Ketika seseorang telah menyadari pentingnya untuk secepatnya terlepas dari gaya hidup duniawi dengan segala perbudakannya, dan memasuki hidup baru yang berkenan kepada Allah, dengan belajar mengasihi-Nya dengan tulus, maka Roh Kudus yang akan melakukan sisanya, yakni memberinya kemampuan untuk “keluar dari Mesir” , Dia sendiri yang akan berperang membinasakan kecenderungan berbuat dosa dan untuk mengasihi Tuhan dengan tulus, maka secepat itu pula ia akan memulai suatu pergaulan yang karib dengan Tuhan. Namun orang yang ceroboh, yang tidak peduli dengan arah hidupnya, yang tidak peduli kepada perasaan Allah, ia harus berhati-hati, agar kehendak bebas yang diberikan Allah kepadanya tidak disalah gunakan.

Sebagaimana Nuh, Ayub dan Daniel, mereka tidak menuntut lingkungan yang sempurna untuk membuat mereka memiliki integritas, maka baiklah kita memiliki pijakan berfikir yang sama, bahwa kita akan mengasihi TUHAN dengan segenap hati , jiwa, akal budi dan kekuatan kita, bukan karena TUHAN telah memberkati kita dengan lingkungan yang sempurna, pasangan hidup yang sempurna, maupun rejeki yang berkelimpahan, namun karena kita memang telah bertekad bulat untuk mengasihi Dia dengan tulus, apapun situasi di sekeliling kita. Jika keinginan kita adalah untuk membuat TUHAN Allah merasa nyaman, berbahagia, sukacita, dan jika kita bertekad melakukan apa saja untuk membahagiakan Dia, itulah integritas kita. Dan bila Tuhan berkenan kepada kita, dengan alasan apa Tuhan menolak kita?

Tuhan Yesus memberkati.

2 Balasan ke Perlunya memiliki integritas

  1. Ping balik: Perlunya memiliki integritas « Ocepkatoke's Weblog

  2. good posting….salam kenal…kesabaran dan kasih yang tulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s