Tidak patut pamer kebaikan

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:10-14)

Dalam kisah di atas, orang Farisi hanya berdoa dalam hati, sehingga tidak bermaksud pamer kebaikan kepada manusia, ia sepertinya mengucap syukur kepada Allah, tetapi yang sebenarnya ia sedang pamer kebaikan kepada Allah. Lewat cerita tersebut, Yesus sedang mengajari murid-murid-Nya soal merendahkan diri di hadapan Allah, dan bahwa sebenarnya tidaklah patut untuk kita lapor kepada Allah bahwa kita ini baik, banyak berbuat baik, banyak berbuat kebenaran. Sebagai anak-anak Allah selayaknya kita “memiliki naluri” untuk berbuat baik, melakukan segala sesuatu yang sesuai Firman, dan bahkan yang menyenangkan hati Bapa. Karena memang keinginan dan kemampuan berbuat baik pada setiap anak Allah sebenarnya merupakan manifestasi Roh Kudus yang dianugerahkan Bapa kepada kita, ketika kita memiliki iman kepada Yesus Kristus (Yoh 1:12). Karena barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah (3 Yoh 1:11).

Perintah untuk merendahkan diri, walaupun kita sudah melakukan kebaikan, juga kita temukan dalam Lukas 17:7-10 sebagai berikut:

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Bagian kita adalah mengingat segala kebaikan Tuhan, dan biarlah Tuhan yang mengingat perbuatan kebenaran yang sudah kita lakukan

Akhirnya, ayat berikut sebuah contoh, bagaimana Allah memuji Ayub di hadapan iblis (bukan didepan Ayub)

Ayub 1:8
8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Satu Balasan ke Tidak patut pamer kebaikan

  1. CameJaine berkata:

    winsome answers i like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s